Selasa, 17 November 2015

Perkembangan Manusia Praaksara di Indonesia_Sebuah Analisis

Berdasarkan penelitian hasil temuan peninggalan sejarah yang berupa fosil (tulang manusia, hewan dan tumbuhan) maupun artefak (peralatan hidup) yang telah membatu, ternyata dapat diketahui bahwa di Jawa pernah hidup berbagai jenis manusia sejarah awal. Fosil manusia yang ditemukan berupa tengkorak, tulang paha, tulang kaki, dan rahang. Dengan merekonstruksi fosil tersebut, maka para ahli berusaha menganalisis bentuk fisik dan tingkat budaya saat itu.

Fosil manusia yang ditemukan pada jaman pleistosen terdapat di berbagai tempat di dunia. Di Indonesia sebagian besar baru ditemukan di Jawa. Indonesia, dalam hal ini Jawa menduduki posisi penting dalam perkembangan paleoantropologi, dimana banyak ditemukan fosil dari segala jaman pleistosen. Oleh karena itu nampak sekali perkembangan biologis manusia tersebut.

Jaman pleistosen ditandai dengan munculnya manusia dan diikuti dengan berbagai peristiwa yang memiliki pengaruh besar bagi kehidupan pada saat itu. Peristiwa tersebut adalah meluasnya es ke sebagian permukaan bumi, perubahan iklim, timbulnya daratan baru, terjadinya letusan gunung berapi, timbul dan tenggelamnya daratan karena turun naiknya permukaan air laut. Peristiwa ini mem[engaruhi cara hidup manusia, hewan maupun tumbuhan di muka bumi. Jenis manusia pada sejarah awal di Indonesia meliputi :

Meganthropus
Meganthropus berasal dari kata Mega = besar dan anthropus = manusia, artinya manusia besar. Jenis ini baru ditemukan satu yaitu Meganthropus Paleojavanicus atau Manusia Raksasa dari Jawa Kuno. Meganthropus diteliti oleh GHR. Von Koenigswald dan Marks di Sangiran (Jawa Tengah) tahun 1936 dan 1941 yang berada pada lapisan pleistosen bawah (formasi Pucangan). Adapun fosil yang ditemukan berupa tulang rahang bawah yang jauh lebih besar dan kuat bila dibandingkan dengan rahang Pithecanthropus. Berdasarkan fosilnya, jenis ini memiliki ciri : rahang besar, geraham besar, otot kunyah kuat, muka masif, tulang pipi tebal, tonjolan kening tajam, tonjolan belakang kepala besar, tidak memiliki dagu, tempat pelekatan otot tengkuk yang besar dan kuat, dan perawakan yang tegap. Dalam kehidupannya memakan tumbuhan tanpa diolah dan hidup 2 juta – 1 juta tahun yang lalu. Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa meganthropus memiliki ciri :
1) memiliki badan yang tegap dan rahang yang besar dan kuat.
2) hidup dengan memakan tumbuhan, misal umbi-umbian dan buah-buahan.
3) belum mampu bercocok tanam, tetapi hanya mengumpulkan bahan makanan dari alam sekitar.

Pithecanthropus
Pithecanthropus berasal dari kata Pithe = kera dan anthropus = manusia, artinya “manusia kera”. Jenis pithecanthropus merupakan bentuk paling dominan dan hidup sepanjang jaman pleistosen. Daerah penemuannya meliputi : Mojokerto, Kedungbrubus, Sangiran, Sambungmacan dan Ngandong (Jawa), Sumatra, Sulawesi, Philipina dan Cina. Adapun ciri pithecanthropus secara umum yaitu : tinggi badan 165 – 180 cm, badan tegap, geraham besar, rahang kuat, tonjolan kening melintang yang tajam dan tonjolan belakang kepala tajam, dagu dan hidung lebar. Volume tengkorak 750 cc – 1300 cc, hidup 2,5 juta – 1,5 juta tahun yang lalu serta memakan tumbuhan dan hewan. Dalam berburu, diperkirakan satu rombongan terdiri dari 20 – 50 orang. Wanita dimungkinkan banyak meninggal pada saat melahirkan. Banyak anak dalam masa berburu dianggap kurang menguntungkan. Jenis pithecanthropus dibedakan atas :

Pithecanthropus Mojokertoensis
Jenis ini sering disebut manusia kera dari Mojokerto, yang ditemukan di Perning, lembah Bengawan Solo (Mojokerto) oleh GHR von Koenigswald (1936) dan berasal dari lapisan pleistosen bawah yaitu formasi Pucangan Kepuhklager dan Sangiran. Di Kepuhklager temuan fosil berupa tengkorak berusia 6 tahun dengan volume tengkorak ± 650 cc dan jika dewasa ± 1000 cc. Tengkorak di Sangiran memiliki isi tengkorak berkisar 900 cc. Pithecanthropus Mojokertensis memiliki ciri : pemakan segalanya, hidup 2,25 juta – 1,25 juta tahun yang lalu. Secara fisik memiliki ciri: tinggi tubuh 130 – 210 cm, berat badan 150 kg, otak lebih besar daripada Meganthropus, otot tengkuk mengalami penyusutan, dahi masih menonjol dan berdiri tegak serta berjalan lebih sempurna.

Pithecanthropus Erectus
Jenis ini sering disebut manusia kera yang berjalan tegak yang ditemukan di Trinil (Ngawi) oleh Eugene Dubois tahun 1890. Ciri fisiknya : tinggi badan 165 – 170 cm, berat badan ± 100 kg, tangan mampu menggenggam, badan tegap dan alat pengunyah kuat. Volume otak sekitar 900 cc (manusia biasa sekitar 1000 cc). Makanan sudah mulai diolah, mulai menggunakan api, daging menjadi makanan sehari-hari dan hidup antara 1 juta – 0,5 juta tahun yang lalu. Cara berjalan belum tegak benar, dimana tangan masih sering membantu. Fosil yang ditemukan berupa sebagian tulang rahang, bagian atas tengkorak dan geraham. Berikutnya ditemukan geraham dan tulang paha kiri (1892).

Sejaman dengan pithecanhtropus Erectus, di Cina ditemukan Pithecanthropus Pekinensis. Di Kenya (Afrika), ditemukan jenis Austrolopithecus Afrikanus. Sedangkan di Eropa Barat dan Tengah ditemukan sisa makhluk manusia Piltdown dan Heidelberg. Jenis ini menurunkan manusia Neanderthal. Teuku Jacob menyatakan bahwa pithecanthropus sudah bisa bertutur ditambah bahasa isyarat.

Pithecanthropus Robustus
Pithecanthropus Robustus dapat diartikan sebagai pithecanthropus = manusia kera dan robustus = kuat/ besar, berarti manusia kera yang besar / kuat. Jenis ini ditemukan oleh Weidenreich dan Koenigswald di daerah Mojokerto dengan ciri unsur manusia lebih dominan (1939). Jika dilihat dari ciri fisik, maka jenis ini terletak diantara Pithecanthropus Mojokertensis dengan Pithecanthropus Erectus. Bentuk tubuhnya diperkirakan lebih besar dan kuat dibanding Pithecanthropus Erectus.                   

Homo
Homo merupakan manusia sejarah awal/ purba yang termuda bila dibandingkan dengan fosil manusia yang lain. Jenis Homo dapat dikatakan manusia purba yang memiliki sifat seperti manusia sekarang (Homo Sapiens). Jenis Homo yang dianggap tertua adalah Homo Neanderthalensis yang diperkirakan sudah hidup di bumi 250.000 tahun yang lalu. Jenis ini mendiami daerah Eropa, Asia Barat dan Afrika Utara. Kemampuan bertutur kata diperkirakan belum begitu berkembang. Volume otaknya berkisar 1.000 – 2.000 cc. tinggi badan berkisar 130 – 210 cm dengan berat badan mencapai 30 – 150 kg.

Jenis Homo Sapiens sudah muncul di bumi sekitar 40.000 tahun yang lalu. Jenis ini menyebar hampir di seluruh muka bumi. Homo Sapiens diperkirakan sudah mampu bertutur kata, meslipun masih sederhana dengan disertai bahasa isyarat. Populasinya tersebar di Niah/ Serawak (Malaysia), Palawan (Philipina), Cina Selatan dan Australia yang hidup sekitar 30.000 tahun yang lalu.

Adapun jenis Homo yang dijumpai di Indonesia, berdasarkan pelapisan tanah penemuannya, dapat diperkirakan hidup antara 60.000 – 20.000 tahun yang lalu. Fosil Homo ditemukan di daerah Wajak (Tulungagung) dan Solo. Ciri fisik lebih maju dibanding pithecanthropus yaitu volume tengkorak 1000 – 2000 cc, tinggi badan 130 – 210 cm, berat badan 30 – 150 kg, berdiri dan berjalan lebih sempurna. Disamping itu juga dahi masih menonjol, otot tengkuk mengalami penyusutan.

Homo Soloensis
Homo Soloensis ditemukan pada lapisan pleistosen atas di daerah lembah Bengawan Solo yaitu desa Ngandong. Fosil ini ditemukan dan diteliti Von Koenigswald dan Weidenreich (1931 dan 1934). Dari tempat tersebut ditemukan fosil berupa 11 tengkorak dan dua tulang paha. Von Koenigswald menyatakan jenis Homo Soloensis memiliki tingkat yang lebih tinggi dibanding jenis Meganthropus dan Pithecanthropus. Fosil yang ditemukan berupa tengkorak dengan volume otak yang lebih besar yang menunjukkan fosil manusia. Jenis ini hidup 900.000 – 200.000 tahun yang lalu. Homo Soloensis digolongkan jenis Homo Neanderthalensis yang merupakan manusia purba jenis Homo Sapiens dari Asia, Eropa dan Afrika. Manusia Solo memiliki tinggi badan 1,30 m – 2,1 m dan berat badan 30 – 150 kg.

Homo Wajakensis
Homo Wajakensis ditemukan von Reistchotten (1889) dan diselidiki lebih lanjut oleh Eugene Dubois. Jenis homo ini ditemukan pada lapisan pleistosen atas di daerah Wajak, Tulungagung. Manusia Wajak termasuk rumpun sub ras Melayu Indonesia dan berevolusi menjadi ras Austromelanesoid. Adapun ciri fisiknya meliputi : tengkorak sedang, agak lonjong, muka lebih mongoloid dan pipi menonjol ke samping. Hidup sekitar 40.000 – 25.000 tahun yang lalu. Di Asia Tenggara dijumpai fosil sejenis yaitu manusia Niak (Serawak) dan manusia Tabon (Palawan/ Philipina).

Homo Wajakensis diperkirakan sudah mengenal api dan memakan makanan yang dimasak lebih dahulu secara sederhana. Disamping itu juga mampu membuat peralatan hidup dari batu dan tulang.

Berdasarkan jenis manusia pada sejarah awal tersebut, von Koeningswald membagi lapisan pleistosen menjadi 3 bagian, yaitu :

Pleistosen bawah (formasi Pucangan)
Pada lapisan ini diselidiki oleh Duyfjes, von Koenigswald dan de Terra yang ditemukan jenis Pithecanthropus Mojokertensis dan Meganthropus Palaeojavanicus.

Pleistosen Tengah (formasi Kabuh)
Lapisan pleistosen tengah diselidiki Van Erp, Duyfjes dan de Terra dan terpusat di daerah pegunungan Kendeng (Sangiran dan Trinil), daerah Kabuh dan Sumber Ringin (Jombang). Di formasi Kabuh ini ditemukan jenis    Pithecanthropus Erectus.

Pleistosen Atas (formasi Notopuro)
Lapisan pleistosen atau formasi Notopuro merupakan pelapisan masa pleistosen yang paling muda. Pleistosen lapisan atas dapat dijumpai di pegunungan Kendeng, Ungaran, Ngawi, Jombang dan Sangiran. Penyelidikan dilakukan oleh Oppenoorth dan Ter Haar (1931 – 1932). Jenis yang ditemukan adalah Homo Soloensis dan Homo Wajakensis.

Manusia jenis Homo Wajakensis yang ditemukan pada lapisan pleistosen atas, dimungkinkan termasuk Homo Sapiens. Jenis ini memiliki ciri fisik yang membedakan dengan jenis sebelumnya dan memiliki kemiripan dengan manusia modern.

Perbedaan Manusia Prasejarah dengan Homo Sapiens
1. Manusia purba memiliki ruang rongga otak lebih kecil dibanding ruang rongga otak Homo Sapiens.
2. Volume otak manusia purba lebih kecil, sedangkan Homo Sapiens memiliki volume otak lebih besar.
3. Tulang kening manusia purba menonjol ke depan, sedangkan tulang kening pada Homo Sapiens tidak menonjol ke depan.
4. Tulang rahang manusia purba pada bagian bawah lurus ke belakang , sehingga seperti tidak memiliki dagu, sedangkan Homo Sapiens tulang rahang bawah tidak lurus ke belakang, nampak memiliki dagu.
5.Tulang rahang manusia purba besar dan kuat, begitu pula gigi-giginya, sedangkan tulang rahang Homo Sapiens kecil dan tidak kuat termasuk juga gigi-giginya.


Disarikan dari :
R. Soekmono,1985.Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia Jilid 1.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar