Rabu, 18 November 2015

Budaya Perundagian Masa Praaksara di Indonesia

Budaya logam yang berkembang di Indonesia memunculkan masyarakat pertukangan. Sejalan dengan meningkatnya kemampuan melebur biji besi dan pembuatan alat dari logam, menimbulkan pembagian kerja. Pembagian kerja untuk melaksanakan berbagai kegiatan hidup yang makin ketat. Kehidupan desa makin berkembang, kehidupan meningkat dan pelayaran perdagangan lebih maju.

Kehidupan pada masa perundagian sangat penting artinya dalam perkembangan sejarah Indonesia. Pada masa tersebut terjalin hubungan dengan daerah di sekitar kepulauan Indonesia. Hubungan dilakukan karena bahan pembuatan alat hanya tersedia di daerah tertentu dan untuk memperolehnya dilakukan dengan sistem barter.

Adapun jenis manusia yang mendiami Indonesia pada jaman perundagian dapat diketahui dari penemuan kerangka manusia di Anyer Lor, Puger (Banyuwangi), Gilimanuk dan Melolo. Di daerah Anyer Lor menunjukkan manusia Austromelanesoid, Gilimanuk memperlihatkan manusia Austromelanesoid tetapi ciri manusia Mongoloid lebih nampak. Sedangkan di Melolo lebih menunjukkan unsur Mongoloid dengan tengkorak bundar dan muka datar. Dengan demikian di Melolo terjadi percampuran ras Austromelanesoid dan Mongoloid.

Perkampungan yang makin besar ditandai dengan populasi yang makin banyak. Kehidupan bercocok tanam dan perdagangan dilakukan masyarakat. Desa demikian membawa akibat timbulnya pencemaran lingkungan dan wabah penyakit. Proses pengolahan makanan makin bervariasi. Jenis makanan bermacam-macam dengan variasi percampuran zat putih telur dengan zat tepung berlainan.

Kehidupan sosial ekonomi masyarakat, pada umumnya mereka tinggal di daerah pegunungan, dataran rendah dan tepi pantai dalam lingkungan tata kehidupan yang lebih teratur dan terpimpin. Perkembangan masyarakat dijumpai di daerah Jawa, Sumatra, Bali, Sulawesi, Sumbawa, Nusa Tenggara Timur dan Maluku. Umumnya mereka telah menempati rumah yang besar dengan bentuk atap melengkung dan dapat ditempati beberapa keluarga. Kegiatan berburu masih dilakukan terutama untuk menunjukkan keberanian dalam lingkungan masyarakat. Beternak dilakukan dengan hewan piaraan unggas, babi, kerbau, kuda dan anjing. Hewan ini berfungsi sebagai persediaan makanan sekaligus hewan untuk upacara. Pertanian menjadi pekerjaan pokok yang diwarnai suasana ritual. Perdagangan lebih maju dan dalam pelayaran, perahu bercadik memegang peran penting.

Pada masa ini, terdapat peningkatan dalam pemujaan nenek moyang yang dilengkapi dengan upacara. Pelaksanaan penguburan mengenal dua cara. Secara langsung, dimana mayat dikubur dengan diarahkan ke tempat roh nenek moyang. Hal ini dijumpai di Sumatra Selatan, Jawa, Bali, Sulawesi, dan Sumbawa. Posisi mayat membujur atau terlipat. Sedangkan penguburan secara tidak langsung dilakukan, dimana mayat dikubur sebagai penguburan sementara, sambil menunggu persiapan untuk penguburan kedua. Penguburan dengan tempayan atau gerabah dapat ditemukan di Anyer, Gilimanuk, Selayar, Sumba dan Rote. Bekal kubur berupa periuk kecil, kendi, tempat pedupaan, pinggan, manik-manik atau perhiasan.

Jaman logam atau masa perundagian dimulai tidak seketika sejak berakhirnya jaman batu. Hal ini nampak bahwa pada jaman logam masih dijumpai alat dari batu. Sedangkan jaman logam pada masa sejarah awal di Indonesia tidak melalui jaman tembaga, melainkan langsung masuk jaman perunggu. Teknologi pada masa perundagian mengalami perkembangan pesat. Hal ini ditambah dengan kemampuan dalam pelayaran, penemuan baru, peleburan, percampuran, penempaan dan pencetakan jenis benda dari logam. Peralatan hidup dari batu mulai ditinggalkan sesuai dengan kemajuan teknologi. Fungsi praktis peralatan batu hilang dan tinggal fungsi sebagai alat upacara dan benda pusaka. Gerabah tetap berfungsi sebagai peralatan hidup sehari-hari disamping sebagai alat upacara atau bekal kubur. Perhiasan masyarakat beraneka ragam, misal gelang, cincin, kalung dari perunggu. Sedangkan benda lain dibuat dari bahan tulang, kerang, batu indah dan kaca. Proses pembuatannya dengan melebur, mencetak dan membentuk benda yang dikehendaki.
Adapun teknik pembuatan alat dari logam meliputi a cire perdue dan bivalve.

1. Teknik a cire perdue
Teknik a cire perdue merupakan cara pembuatan peralatan hidup dari bahan perunggu dengan  menggunakan model lilin yang bercampur dengan tanah liat menjadi benda yang akan dibuat lebih dahulu. Pola lilin ini dilapisi dengan tanah liat dan diberi lubang pada bagian bawah. Cairan perunggu dituangkan lewat lubang pada bagian atas, sehingga lilin meleleh dan keluar dari lubang bagian bawah. Setelah dingin, yang tertinggal adalah benda yang telah jadi. Dengan demikian teknik ini memiliki ciri hanya sekali pakai. Jika ingin membuat barang yang sama, maka perlu disiapkan benda tiruan dari lilin lagi.

2. Teknik bivalve
Teknik bivalve merupakan cara pembuatan peralatan hidup dari bahan perunggu yang berbeda dengan teknik a cire perdue. Dalam hal ini dilakukan dengan menggunakan dua cetakan (umumnya dari batu) yang ditangkupkan. Pada cetakan yang ditangkupkan, diberi lubang di bagian atas dan bawah. Hal ini dilakukan agar dapat diberi cairan perunggu panas. Setelah dituangkan cairan perunggu, perlu ditunggu agar mengering dan dingin. Kemudian dua cetakan tangkupan tersebut, diangkat dan diperoleh hasil peralatan hidup yang diinginkan. Dengan demikian teknik ini memiliki ciri khas dapat dilakukan beberapa kali.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar