Senin, 23 November 2015
Minggu, 22 November 2015
Sejarah Perkembangan PGRI
Semangat keindonesiaan telah lama tumbuh di kalangan guru-guru Indonesia. Organisasi perjuangan guru-guru pribumi pada jaman Belanda berdiri tahun 1912 dengan nama Persatuan Guru Hindia Belanda (PGHB).
Organisasi ini bersifat unitaristik yang anggotanya terdiri dari para Guru Bantu, Guru Desa, Kepala Sekolah, dan Penilik Sekolah. Dengan latar pendidikan yang berbeda-beda mereka umumnya bertugas di Sekolah Desa dan Sekolah Rakyat Angka Dua.
Tidak mudah bagi PGHB memperjuangkan nasib anggotanya yang memiliki pangkat, status sosial dan latar belakang pendidikan yang berbeda. Sejalan dengan itu, di samping PGHB berkembang pula organisasi guru baru antara lain Persatuan Guru Bantu (PGB), Perserikatan Guru Desa9 PGD), Persatuan Guru Ambachttsschool (PGAS), Perserikatan Normaalschool (PNS), Hogere Kweekschool Bond (HKSB); di samping organisasi guru yang ebrcorak keagamaan, kebangsaan atau lainnya seperti Christelijke Onderwijs Vereneiging (COV), Katolieke Onderwijsbond (KOB), Vereneiging Van Muloleerkrachten (VVM), dan Nederlands Indische Onderwijs Genootschap (NIOG) yang beranggotakan semua guru tanpa membedakan golongan agama.
Organisasi ini bersifat unitaristik yang anggotanya terdiri dari para Guru Bantu, Guru Desa, Kepala Sekolah, dan Penilik Sekolah. Dengan latar pendidikan yang berbeda-beda mereka umumnya bertugas di Sekolah Desa dan Sekolah Rakyat Angka Dua.
Tidak mudah bagi PGHB memperjuangkan nasib anggotanya yang memiliki pangkat, status sosial dan latar belakang pendidikan yang berbeda. Sejalan dengan itu, di samping PGHB berkembang pula organisasi guru baru antara lain Persatuan Guru Bantu (PGB), Perserikatan Guru Desa9 PGD), Persatuan Guru Ambachttsschool (PGAS), Perserikatan Normaalschool (PNS), Hogere Kweekschool Bond (HKSB); di samping organisasi guru yang ebrcorak keagamaan, kebangsaan atau lainnya seperti Christelijke Onderwijs Vereneiging (COV), Katolieke Onderwijsbond (KOB), Vereneiging Van Muloleerkrachten (VVM), dan Nederlands Indische Onderwijs Genootschap (NIOG) yang beranggotakan semua guru tanpa membedakan golongan agama.
Jumat, 20 November 2015
Perubahan Dalam Sejarah
Perubahan dapat dikatakan sebagai gejala yang biasa terjadi dalam setiap masyarakat manusia. Cepat atau lambat, manusia atau masyarakat akan mengalami perubahan. Perubahan dalam masyarakat akan terus berlangsung seiring dengan perjalanan waktu.
1. Perubahan dalam sejarahPerubahan ini dapat diartikan sebagai segala aspek kehidupan yang terus bergerak seiring dengan perjalanan kehidupan masyarakat. Heraclitus mengatakan “Panta rei”, artinya tidak ada yang tidak berubah, semuanya mengalir, masyarakat sewaktu-waktu bergerak dan berubah. Wertheim, menuliskan, History is a continuity and change (Sejarah adalah peristiwa yang berkesinambungan dan perubahan).
Perkembangan kehidupan dalam masyarakat ada yang berlangsung lambat dan ada yang cepat. Arah perubahan dibedakan atas keadaan yang lebih baik (progres) dan keadaan yang lebih buruk (regres).
2. Berkelanjutan dalam sejarahDalam mempelajari sejarah, rangkaian peristiwa yang ada merupakan peristiwa yang berkelanjutan. Kehidupan manusia saat ini merupakan mata rantai dari kehidupan masa lampau, sekarang dan masa mendatang. Setiap peristiwa tidak berdiri sendiri dan tidak terpisahkan dari peristiwa lain.
Roeslan Abdul Gani menyatakan ilmu sejarah dapat diibaratkan sebagai penglihatan terhadap tiga dimensi, yaitu penglihatan ke masa silam, masa sekarang, dan masa depan. Hal ini sejalan dengan Arnold J. Toynbee yang mengatakan bahwa mempelajari sejarah adalah mempelajari masa lampau, untuk membangun masa depan (to study history is to study the past to build the future).
Selain membahas manusia atau masyarakat, sejarah juga melihat hal lain yaitu waktu. Waktu menjadi konsep penting dalam ilmu sejarah. Sehubungan dengan konsep waktu, dalam ilmu sejarah menurut Kuntowijoyo meliputi perkembangan, keberlanjutan/kesinambungan, pengulangan dan perubahan.
Disebut mengalami perkembangan apabila dalam kehidupan masyarakat terjadi gerak secara berturut-turut dari bentuk yang satu ke bentuk yang lain. Perkembangan terjadi biasanya dari bentuk yang sederhana ke bentuk yang kompleks. Misalnya adalah perkembangan demokrasi di Amerika yang mengikuti perkembangan kota. Pada awalnya masyarakat di Amerika tinggal di kota-kota kecil. Di kota-kota kecil itulah tumbuh dewan-dewan kota, tempat orang berkumpul. Dari kota-kota kecil mengalami proses menjadi kota-kota besar hingga menjadi kota metropolitan. Di sini, demokrasi berkembang mengikuti perkembangan kota.
Kesinambungan terjadi bila suatu masyarakat baru hanya melakukan adopsi lembaga-lembaga lama. Misalnya pada masa kolonial, kebijakan pemerintah kolonial mengadopsi kebiasaan lama, antara lain dalam menarik upeti raja taklukan, Belanda meniru raja-raja pribumi.
Sementara itu disebut pengulangan apabila peristiwa yang pernah terjadi di masa lampau terjadi lagi pada masa berikutnya, misalnya menjelang presiden Soekarno jatuh dari kekuasaannya pada tahun 1960-an banyak terjadi aksi dan demonstrasi, khususnya yang dilakukan oleh para mahasiswa. Demikian halnya menjelang presiden Soeharto jatuh pada 1998, juga banyak terjadi aksi dan demonstrasi.
Sedangkan dikatakan perubahan apabila dalam masyarakat terjadi perkembangan secara besar-besaran dalam waktu yang relatif singkat. Perubahan terjadi karena adanya pengaruh dari luar. Misalnya gerakan nasionalisme di Indonesia sering dianggap sebagai kepanjangan dari gerakan romantik di Eropa.
Berhubungan dengan konsep waktu ini lah dikisahkan kehidupan manusia pada masa lalu. Masa lalu merupakan sebuah masa yang sudah terlewati. Namun, masa lalu bukanlah suatu masa yang terhenti dan tertutup. Masa lalu bersifat terbuka dan berkesinambungan sehingga dalam sejarah, masa lalu manusia bukan demi masa lalu itu sendiri. Segala hal yang terjadi di masa lalu dapat dijadikan acuan untuk bertindak di masa kini dan untuk meraih kehidupan yang lebih baik di masa datang.
1. Perubahan dalam sejarahPerubahan ini dapat diartikan sebagai segala aspek kehidupan yang terus bergerak seiring dengan perjalanan kehidupan masyarakat. Heraclitus mengatakan “Panta rei”, artinya tidak ada yang tidak berubah, semuanya mengalir, masyarakat sewaktu-waktu bergerak dan berubah. Wertheim, menuliskan, History is a continuity and change (Sejarah adalah peristiwa yang berkesinambungan dan perubahan).
Perkembangan kehidupan dalam masyarakat ada yang berlangsung lambat dan ada yang cepat. Arah perubahan dibedakan atas keadaan yang lebih baik (progres) dan keadaan yang lebih buruk (regres).
2. Berkelanjutan dalam sejarahDalam mempelajari sejarah, rangkaian peristiwa yang ada merupakan peristiwa yang berkelanjutan. Kehidupan manusia saat ini merupakan mata rantai dari kehidupan masa lampau, sekarang dan masa mendatang. Setiap peristiwa tidak berdiri sendiri dan tidak terpisahkan dari peristiwa lain.
Roeslan Abdul Gani menyatakan ilmu sejarah dapat diibaratkan sebagai penglihatan terhadap tiga dimensi, yaitu penglihatan ke masa silam, masa sekarang, dan masa depan. Hal ini sejalan dengan Arnold J. Toynbee yang mengatakan bahwa mempelajari sejarah adalah mempelajari masa lampau, untuk membangun masa depan (to study history is to study the past to build the future).
Selain membahas manusia atau masyarakat, sejarah juga melihat hal lain yaitu waktu. Waktu menjadi konsep penting dalam ilmu sejarah. Sehubungan dengan konsep waktu, dalam ilmu sejarah menurut Kuntowijoyo meliputi perkembangan, keberlanjutan/kesinambungan, pengulangan dan perubahan.
Disebut mengalami perkembangan apabila dalam kehidupan masyarakat terjadi gerak secara berturut-turut dari bentuk yang satu ke bentuk yang lain. Perkembangan terjadi biasanya dari bentuk yang sederhana ke bentuk yang kompleks. Misalnya adalah perkembangan demokrasi di Amerika yang mengikuti perkembangan kota. Pada awalnya masyarakat di Amerika tinggal di kota-kota kecil. Di kota-kota kecil itulah tumbuh dewan-dewan kota, tempat orang berkumpul. Dari kota-kota kecil mengalami proses menjadi kota-kota besar hingga menjadi kota metropolitan. Di sini, demokrasi berkembang mengikuti perkembangan kota.
Kesinambungan terjadi bila suatu masyarakat baru hanya melakukan adopsi lembaga-lembaga lama. Misalnya pada masa kolonial, kebijakan pemerintah kolonial mengadopsi kebiasaan lama, antara lain dalam menarik upeti raja taklukan, Belanda meniru raja-raja pribumi.
Sementara itu disebut pengulangan apabila peristiwa yang pernah terjadi di masa lampau terjadi lagi pada masa berikutnya, misalnya menjelang presiden Soekarno jatuh dari kekuasaannya pada tahun 1960-an banyak terjadi aksi dan demonstrasi, khususnya yang dilakukan oleh para mahasiswa. Demikian halnya menjelang presiden Soeharto jatuh pada 1998, juga banyak terjadi aksi dan demonstrasi.
Sedangkan dikatakan perubahan apabila dalam masyarakat terjadi perkembangan secara besar-besaran dalam waktu yang relatif singkat. Perubahan terjadi karena adanya pengaruh dari luar. Misalnya gerakan nasionalisme di Indonesia sering dianggap sebagai kepanjangan dari gerakan romantik di Eropa.
Berhubungan dengan konsep waktu ini lah dikisahkan kehidupan manusia pada masa lalu. Masa lalu merupakan sebuah masa yang sudah terlewati. Namun, masa lalu bukanlah suatu masa yang terhenti dan tertutup. Masa lalu bersifat terbuka dan berkesinambungan sehingga dalam sejarah, masa lalu manusia bukan demi masa lalu itu sendiri. Segala hal yang terjadi di masa lalu dapat dijadikan acuan untuk bertindak di masa kini dan untuk meraih kehidupan yang lebih baik di masa datang.
Peran dan Kegunaan Sejarah_Suatu Analisis
Dalam kehidupan sehari-hari, banyak dijumpai bahwa orang baru menyadari peran penting pengetahuan sejarah setelah mereka mampu menduduki posisi penting dalam birokrasi pemerintahan. Juga orang yang telah mampu mencapai kesuksesan dalam perjalanan hidupnya dalam segala aspek kehidupan. Seorang birokrat akan menjadi figur yang unik dan cukup mengherankan jika ia tidak memahami sejarah perjalanan bangsanya. Ia akan mengalami kedulitan dalam mengatasi masalah sosial, ekonomi dan politik dalam masyarakat. Seorang duta besar akan mengalami kesulitan atau melakukan kesalahan diplomatik karena kurang memahami sejarah dan nilai yang berkembang di negara dimana ia bertugas.
Terkait dengan arti penting sejarah dalam kehidupan dewasa ini, dapat dikemukakan bahwa sejarah memiliki peran sebagai berikut :
1. Memberikan kesadaran waktuKesadaran waktu adalah kesadaran bahwa kehidupan dengan segala perubahan terus berjalan melewati waktu. Kesadaran ini dikenal sebagai kesadaran adanya gerak sejarah. Dengan memiliki kesadaran sejarah yang baik, seseorang atau masyarakat akan senantiasa berupaya mengukir sejarah kehidupannya dengan sebaik mungkin.
2. Memberikan teladan yang baikMempelajari sejarah kehidupan tokoh masyarakat, memberikan pelajaran yang baik bagi kita saat ini. Sikap dan perjuangan mereka dapat memberikan keteladanan yang baik, sehingga nama dan hasil perjuangannya patut dikenang hingga kini. Bangsa yang besar adalah bangsa yang bisa menghargai jasa pahlawannya.
Terkait dengan arti penting sejarah dalam kehidupan dewasa ini, dapat dikemukakan bahwa sejarah memiliki peran sebagai berikut :
1. Memberikan kesadaran waktuKesadaran waktu adalah kesadaran bahwa kehidupan dengan segala perubahan terus berjalan melewati waktu. Kesadaran ini dikenal sebagai kesadaran adanya gerak sejarah. Dengan memiliki kesadaran sejarah yang baik, seseorang atau masyarakat akan senantiasa berupaya mengukir sejarah kehidupannya dengan sebaik mungkin.
2. Memberikan teladan yang baikMempelajari sejarah kehidupan tokoh masyarakat, memberikan pelajaran yang baik bagi kita saat ini. Sikap dan perjuangan mereka dapat memberikan keteladanan yang baik, sehingga nama dan hasil perjuangannya patut dikenang hingga kini. Bangsa yang besar adalah bangsa yang bisa menghargai jasa pahlawannya.
Corak Budaya Neolithikum di Indonesia
Setelah berkembang budaya mesolithikum, sekitar tahun 4000 SM berlangsung penyebaran bangsa yang membawa kebudayaan neolithikum. Pangkal penyebaran kebudayaan ini dari daerah Yunan (Asia daratan), melalui 2 jalur : jurusan Barat melalui Malaya – Sumatra – Jawa – Nusa Tenggara – Sulawesi. Alat yang dikembangkan adalah kapak yang berbentuk persegi dan sudah dihaluskan. Oleh karena itu ciri kebudayaan ini disebut kebudayaan kapak persegi. Sedangkan jurusan Utara melalui Jepang – Philipina – Sulawesi dan Irian. Bentuk alat budaya berupa kapak lonjong yang sudah dihaluskan, sehingga kebudayaan ini dinamakan kebudayaan kapak lonjong. Baik penyebaran jalan Barat maupun Utara, merupakan pangkal nenek moyang bangsa Indonesia (lihat Soekmono.1986. Pengantar Sejarah Kebudayaan Jilid 1). Dengan demikian kebudayaan neolithikum merupakan kebudayaan yang tersebar di seluruh kepulauan Indonesia.
Tingkat budaya masyarakat yang makin tinggi nampak dari berkembangnya masa bercocok tanam yang ditandai kemampuan mengupam dan pembuatan gerabah. Peralatan hidup yang dihasilkan berupa beliung, kapak bahu, mata panah dan mata tombak. Selain itu juga alat obsidian dan mata panah sebagai alat berburu dan alat pemukul kulit kayu. Adapun kebudayaan neolithikum meliputi :
1. Kapak persegi
Kapak persegi atau beliung persegi berbentuk memanjang dengan penampang melintang persegi. Seluruh bagian kapak persegi diupam, kecuali bagian tangkai. Cara membuat bagian yang tajam dengan mengasah bagian samping untuk memperoleh tajaman miring seperti tajaman pahat sekarang ini. Van Stein Callenfels dan von Heine Geldern mengadakan penelitian dan menamakan kapak persegi panjang. Bahan pembuatan kapaka persegi adalah batu chalsedon, agat, chert, jaspis dan sebagainya. Dilihat dari ukurannya, kapak persegi dibedakan atas beliung (ukuran besar) dan tarah (ukuran kecil). Adapun fungsi kapak persegi adalah untuk mengerjakan kayu, upacara ritual, alat kebutuhan sehari-hari. Daerah penemuan kapak persegi di Indonesia meliputi : Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Bali, Solor, Maluku dan Sangir Talaud. Sedangkan di negara lain ditemukan di Malaysia, Thailand, Cina, Jepang dan Philipina. Bahan pembuatan kapak persegi adalah batu api dan batu khalsedon. Pusat pembuatan kapak persegi dapat dijumpai di Lahat, Bogor, Sukabumi, Krawang dan Tasikmalaya, Pacitan serta lereng gunung Ijen (Jawa Timur).
Sejenis dengan kapak persegi, juga ditemukan kapak bahu. Bentuk kapak bahu hampir sama, hanya pada bagian yang diikat pada tangkainya terdapat semacam “leher”. Dengan demikian menyerupai bentuk botol persegi. Di Indonesia, kapak bahu hanya ditemukan di daerah Minahasa. Sedangkan daerah lain adalah Jepang, Formosa, Philipina, semenanjung Malaya hingga India. Tempat pembuatan kapak persegi adalah Bungamas (Palembang), Karangnunggal (Tasikmalaya), Pasir Kuda (Bogor), Karangbolong (Kedu) dan Punung (Pacitan).
Tingkat budaya masyarakat yang makin tinggi nampak dari berkembangnya masa bercocok tanam yang ditandai kemampuan mengupam dan pembuatan gerabah. Peralatan hidup yang dihasilkan berupa beliung, kapak bahu, mata panah dan mata tombak. Selain itu juga alat obsidian dan mata panah sebagai alat berburu dan alat pemukul kulit kayu. Adapun kebudayaan neolithikum meliputi :
1. Kapak persegi
Kapak persegi atau beliung persegi berbentuk memanjang dengan penampang melintang persegi. Seluruh bagian kapak persegi diupam, kecuali bagian tangkai. Cara membuat bagian yang tajam dengan mengasah bagian samping untuk memperoleh tajaman miring seperti tajaman pahat sekarang ini. Van Stein Callenfels dan von Heine Geldern mengadakan penelitian dan menamakan kapak persegi panjang. Bahan pembuatan kapaka persegi adalah batu chalsedon, agat, chert, jaspis dan sebagainya. Dilihat dari ukurannya, kapak persegi dibedakan atas beliung (ukuran besar) dan tarah (ukuran kecil). Adapun fungsi kapak persegi adalah untuk mengerjakan kayu, upacara ritual, alat kebutuhan sehari-hari. Daerah penemuan kapak persegi di Indonesia meliputi : Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Bali, Solor, Maluku dan Sangir Talaud. Sedangkan di negara lain ditemukan di Malaysia, Thailand, Cina, Jepang dan Philipina. Bahan pembuatan kapak persegi adalah batu api dan batu khalsedon. Pusat pembuatan kapak persegi dapat dijumpai di Lahat, Bogor, Sukabumi, Krawang dan Tasikmalaya, Pacitan serta lereng gunung Ijen (Jawa Timur).
Sejenis dengan kapak persegi, juga ditemukan kapak bahu. Bentuk kapak bahu hampir sama, hanya pada bagian yang diikat pada tangkainya terdapat semacam “leher”. Dengan demikian menyerupai bentuk botol persegi. Di Indonesia, kapak bahu hanya ditemukan di daerah Minahasa. Sedangkan daerah lain adalah Jepang, Formosa, Philipina, semenanjung Malaya hingga India. Tempat pembuatan kapak persegi adalah Bungamas (Palembang), Karangnunggal (Tasikmalaya), Pasir Kuda (Bogor), Karangbolong (Kedu) dan Punung (Pacitan).
Kamis, 19 November 2015
Bentuk Budaya Logam Masa Praaksara di Indonesia
Perkembangan budaya yang pesat di kepulauan Indonesia, sangat nampak pada jaman logam. Perkembangan demikian, dapat dilihat dari bentuk budaya sebagai berikut :
1. NekaraNekara pertama kali dikemukakan oleh GE. Romphius yang menguraikan nekara Pejeng (Bali). Sedangkan AB. Meyer menyebutkan beberapa nekara di Jawa, Selayar, Luang, Roti dan Leti. Meyer menyatakan bahwa budaya nekara berpusat di Khmer yang selanjutnya menyebar ke Asia Tenggara, termasuk Indonesia.
Nekara berbentuk seperti berumbung (dandang/ bhs. Jawa) yang berpinggang di bagian tengah dan sisi atasnya tertutup. Alat ini berfungsi untuk genderang perang, upacara/ bekal kubur, upacara memanggil hujan dan upacara adat. Nekara yang berbentuk ramping disebut moko yang digunakan untuk mas kawin/ mahar. Daerah penemuan nekara adalah Jawa, Selayar, Luang, Rote, Leti, Bali, Alor dan Irian. Di Bali terdapat nekara Pejeng yang berukuran tinggi 1,86 meter dan garis tengah 1,60 meter. Nekara ini dianggap sangat suci dan dipuja penduduk setempat.
Pada nekara terdapat hiasan gambar misal garis lurus dan bengkok, pilin-pilin dan gambar geometri lainnya. Di samping itu juga gambar binatang (burung, gajah, merak, kuda, rusa), rumah, perahu dan pemandangan (lukisan orang berburu, tarian upacara). Nekara di Sangean terdapat gambar orang menunggang kuda dengan dua pengiringnya. Nekara dari Selayar dan kepulauan Kei dijumpai hiasan gambar gajah, merak, harimau. Nekara yang ada di Indonesia tidak semuanya buatan luar, namun ada yang dibuat di Indonesia. Hal ini dapat dibuktikan dari penemuan cetakan batu untuk membuat nekara di daerah Manuaba (Bali).
1. NekaraNekara pertama kali dikemukakan oleh GE. Romphius yang menguraikan nekara Pejeng (Bali). Sedangkan AB. Meyer menyebutkan beberapa nekara di Jawa, Selayar, Luang, Roti dan Leti. Meyer menyatakan bahwa budaya nekara berpusat di Khmer yang selanjutnya menyebar ke Asia Tenggara, termasuk Indonesia.
Nekara berbentuk seperti berumbung (dandang/ bhs. Jawa) yang berpinggang di bagian tengah dan sisi atasnya tertutup. Alat ini berfungsi untuk genderang perang, upacara/ bekal kubur, upacara memanggil hujan dan upacara adat. Nekara yang berbentuk ramping disebut moko yang digunakan untuk mas kawin/ mahar. Daerah penemuan nekara adalah Jawa, Selayar, Luang, Rote, Leti, Bali, Alor dan Irian. Di Bali terdapat nekara Pejeng yang berukuran tinggi 1,86 meter dan garis tengah 1,60 meter. Nekara ini dianggap sangat suci dan dipuja penduduk setempat.
Pada nekara terdapat hiasan gambar misal garis lurus dan bengkok, pilin-pilin dan gambar geometri lainnya. Di samping itu juga gambar binatang (burung, gajah, merak, kuda, rusa), rumah, perahu dan pemandangan (lukisan orang berburu, tarian upacara). Nekara di Sangean terdapat gambar orang menunggang kuda dengan dua pengiringnya. Nekara dari Selayar dan kepulauan Kei dijumpai hiasan gambar gajah, merak, harimau. Nekara yang ada di Indonesia tidak semuanya buatan luar, namun ada yang dibuat di Indonesia. Hal ini dapat dibuktikan dari penemuan cetakan batu untuk membuat nekara di daerah Manuaba (Bali).
Langganan:
Postingan (Atom)



